3 PR Frank Lampard usai Chelsea Dibantai MU

London – Chelsea mengawali Liga Inggris 2019-2020 dengan hasil buruk Tanpa ampun, The Blues dibantai Manchester United (MU) empat gol tanpa balas diĀ Old Trafford, Minggu (11/8/2019).

Chelsea dibunuh rentetan serangan balik mematikan The Reds Devils. Menguasai jalannya pertandingan, anak asuh Frank Lampard justru kebobolan gol penalti, Marcus Rashford.

Pada babak kedua, upaya mereka mengejar defisit gol berbuah kepahitan. Chelsea kebobola tiga gol, yang terjadi imbas ketidaksiapan mereka membendung kecepatan pemain-pemain depan Manchester United.

Kekalahan 0-4 bukan awal yang baik bagi Frank Lampard yang didapuk sebagai manajer Chelsea menggantikan Maurizio Sarri yang hengkang ke Juventus.

Realitanya mudik ke Chelsea dengan status legenda, Frank Lampard minim jam terbang sebagai pelatih. Ia baru semusim menangani Derby Country.

Di Chelsea pun ia tak bisa melakukan belanja pemain karena klub tersebut sedang dihukum FIFA tak boleh melakukan aktivitas transfer karena kasus rekrutmen pemain ilegal.

Kamis (15/8/2019), Chelsea yang berstatus jawara Liga Europa akan bersua kampiun Liga Champions, Liverpool di ajang Piala Super Eropa. Frank Lampard wajib menuntaskan pekerjaan rumah di depan matanya jika ingin Chelsea tak kembali dipermalukan dengan skor kekalahan telak. Apa-apa saja?

2 dari 4 halaman

Memperbaiki Ketangguhan Lini Belakang

Kurt Zouma (AFP/GLYN KIRK)

Keputusan Chelsea menjual David Luiz di pengukung bursa transfer Premier League agak blunder. The Blues tak punya banyak stok bek tengah matang pengalaman buat mengarungi laga-laga besar sarat tekanan.

Sekedar informasi, Chelsea juga sebelumnya melepas bek veteren, Garry Cahlil.

Duo bek tengah saat menghadapi Manchester United terlihat rapuh. Kurt Zouma dan Andre Christensen bukan tipikal pemain yang bisa jadi sosok pemimin di poros belakang. Mereka selama ini dipasang sebagai pendamping, bukan pemegang garis komando.

Zouma pemain yang dipinjamkan ke Everton musim lalu. Sementara itu, Christensen spesialis bek serep.

Absennya Antonio Rudiger karena cedera amat terasa. Chelsea terlihat gelagapan menghadapi permainan kombinasi United. Di sisi lain, koordinasi duo stoper bisa dibilang buruk, sehingga akhirnya mereka dengan mudah jadi bulan-bulanan serangan balik Tim Setan Merah.

Lampard kudu putar otak lebih keras mencari kombinasi bek tengah yang kokoh. Stok pemain yang tersisa rata-rata minim jam terbang. Kenneth Omeruo dan Michael Hector akan didera rasa canggung saat dipercaya jadi pilar inti.

3 dari 4 halaman

Menemukan Pengganti Eden Hazard

Bek Lyon, Jeremy Morel (kiri) berebut bola di udara dengan striker Chelsea Tammy Abraham dalam International Champions Cup (ICC) di Stamford Bridge, London, Inggris, Selasa (7/8). Chelsea menang 5-4 atas Lyon. (Ian KINGTON/AFP)

Kepergian Eden Hazard membuat Chelsea kehilangan separuh nyawa permainan ofensifnya. Sang bintang asal Belgia tersebut selama ini tak hanya produktif mencetak gol, namun jadi andalan untuk membongkar pertahanan lawan dengan aksi-aksi individunya.

Saat menjajal Manchester United, Chelsea menurunkan kuartet Mason Mount, Tammy Abraham, dan Pedro di sektor depan. Permainan kombinasi mereka kerap dengan mudah dibaca oleh kubu lawan.

Terlihat ketiga pemain ini belum nyetel satu sama lain. Chelsea bermain tanpa nyawa karena tak ada pemain pembeda yang dulu diperankan Hazard.

Keputusan Lampard baru menurunkan Christian Pulisic pada babak kedua (menit 58′) juga mengherankan. Penyerang asal Amerika Serikat itu punya style bermain hampir mirip dengan Hazard.

Di sisi lain, keberanian Lampard memasang Tammy Abraham sebagai ujung tombak berisiko tinggi. Ia terlihat kurang percaya diri dan seringkali salah dalam penempatan posisi untuk menyongsong sebuah peluang emas.

Patut dicatat, Chelsea hanya punya satu target man, Olivier Giroud.

4 dari 4 halaman

Memaksimalkan Jorginho

Wasit Anthony Taylor memberikan kartu kuning ke gelandang Chelsea, Jorginho selama bertanding melawan Manchester United pada Liga Inggris di Old Trafford (11/8/2019). MU menang telak 4-0 atas Chelsea. (AFP Photo/Oli Scarff)

Sejak musim lalu, sosok Jorginho jadi sasaran kritik. Gelandang bertahan asal Italia itu terlihat kesulitan menemukan bentuk permainan terbaik di Chelsea.

Diharapkan sebagai deep lying playmaker, ia kerap jadi kartu mati terutama saat Chelsea melakukan transisi permainan dari menyerang ke bertahan.

Ia tak segarang N’Golo Kante sebagai pemain penyetop pertama arus pertahanan lawan.

Kerapuhan Jorginho saat duel melawan Manchester United amat terlihat nyata. Ia sering kali kalah lari dengan trio penyerang Setan Merah.

Sumber: Bola.com