Bongkar Pasang Pelatih demi Perbaiki Nasib di Shopee Liga 1 2019

Liputan6.com, Jakarta – Pergantian pelatih menjadi tren pada putaran pertama Shopee Liga 1 2019. Sudah sembilan tim melakukan pergantian nakhoda atau 50 persen dari peserta.

Tidak memedulikan status klub, fenomena ini muncul akibat kegagalan pelatih mengangkat performa tim. Ivan Kolev mundur dari kursi Persija Jakarta karena tidak mampu mengulang capaian musim lalu.

Selain terpuruk akibat ketatnya persaingan Shopee Liga 1 2019, Macan Kemayoran terhenti di fase grup AFC Cup dan dikalahkan tim promosi Kalteng Putra pada perempat final turnamen pramusim Piala Presiden.

Jacksen F Tiago (Barito Putera), Aji Santoso (Persela Lamongan), Luciano Leandro (Persipura Jayapura), Syafrianto Rusli (Semen Padang), dan Jan Saragih (Perseru Badak Lampung) menyusul karena tim terjebak di papan bawah.

Jafri Sastra diberhentikan PSIS Semarang karena performa tim menunjukkan penurunan. Djadjang Nurdjaman tidak bisa mengangkat Persebaya Surabaya. Sementara Alfredo Vera dipecat Bhayangkara FC karena gagal membawa Indra Kahfi dan kawan-kawan ke papan atas.

“Kami berterima kasih atas dedikasi Alfredo Vera selama menjabat pelatih kepala Bhayangkara FC dan mendoakan yang terbaik bagi karier selanjutnya,” ujar COO sekaligus manajer tim Bhayangkara FC Sumardji, dilansir situs resmi klub.

“Dalam kontrak kerja sama dengan kami, pelatih Alfredo Vera ditargetkan membawa Bhayangkara FC berada di peringkat lima besar klasemen saat akhir putaran pertama,” lanjutnya.

Jumlah perubahan pelatih Shopee Liga 1 2019 berpotensi bertambah karena kompetisi belum mencapai putaran pertama. Menurut jadwal, fase pertengahan tersebut hadir pada akhir Agustus dan awal September mendatang.

2 dari 4 halaman

Tradisi Lama

Widodo C Putro membawa Bali United menduduki posisi runner-up Liga 1 2018. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Meski banyak terjadi pada tahun ini, perubahan pelatih sebenarnya merupakan tradisi dalam sepak bola Indonesia. Termasuk ketika kompetisi menggunakan identitas Liga 1.

World Football Net mencatat terjadi tujuh pergantian nakhoda sebelum pertengahan kompetisi edisi 2017. Sedangkan pertukaran arsitek tim hingga putaran pertama Liga 1 2018 mencapai 10 orang.

Perbaikan performa menjadi alasan mengapa manajemen klub melakukannya. Memberhentikan Hans-Peter Schaller karena dikalahkan Madura United dan Persipura Jayapura pada dua laga awal Liga 1 2017, Bali United kembali meminang Widodo C Putro. Laskar Serdadu Tridatu kemudian mengakhiri kompetisi di posisi dua, kalah rekor pertemuan melawan Bhayangkara FC.

Pada 2018, giliran dua klub Jawa Timur yang merasakan efek positif pergantian pelatih. Arema FC dan Persebaya Surabaya memperbaiki posisi setelah ditangani nakhoda anyar.

3 dari 4 halaman

Tidak Semua Sukses

Peter Butler gagal membantu PSMS Medan menghindari degradasi Liga 1 2018. (Bola.com/Yoppy Renato)

Namun tidak semua bisa mencapai target. Persiba Balikpapan (2017), PSMS Medan (2018), dan Mitra Kukar (2018) tetap terdegradasi walau mengubah nakhoda pada putaran pertama.

Di sini pertengahan kompetisi menjadi periode ideal untuk mengganti pelatih. Klub tidak mau terlambat bertindak. Kasus Semen Padang pada 2017 bisa jadi contoh.

Nil Maizar meninggalkan Kabau Sirah pada pekan 27. Caretaker Delfi Adri dan Syafrianto Rusli yang kemudian ditunjuk jadi pelatih pengganti pun kesulitan mengangkat kinerja tim di sisa waktu sehingga tim tergusur ke Liga 2.

“Kami harus melakukan perubahan agar tim dapat tampil lebih maksimal,” kata Direktur Umum PT Kabau Sirah Semen Padang (KSSP) Iskandar Zulkarnain Lubis ketika itu.

4 dari 4 halaman

Berbekal Pembenaran

Kalau sudah begini, pergantian pelatih klub sepak bola Indonesia akan terus marak terjadi ketika klub gagal mencapai target walau tidak 100 persen berbuah positif. Manajemen bakal melakukannya berbekal pembenaran. Setidaknya mereka sudah berusaha mengubah nasib ketimbang tidak berbuat apa-apa.