Sepak Terjang Cucu BJ Habibie di Dunia Sepak Bola, Sempat Berguru ke Eropa

Liputan6.com, Jakarta- Indonesia kembali berduka. Presiden ketiga RI Bacharuddin Jusuf atau BJ Habibie meninggal dunia pada Rabu (11/9/2019). Pria kelahiran Pare-pare itu wafat pada usia 83 tahun di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto.

Habibie menghembuskan nafas terakhir pada pukul 18.05. “Bapak sudah tidak ada pada pukul 18.05 WIB,” kata putra Habibie, Thareq Kemal dalam keterangannya di RSPAD Jakarta.

Keluarga besar Habibie selama ini dikenal banyak berkutat di bidang sains dan teknologi. Namun di antara anggota keluarga Habibie, ada yang menekuni karier sebagai pesepak bola yakni Rafid.

Rafid merupakan cucu dari BJ Habibie. Rafid sebenarnya adalah anak dari Rully Habibie (putra dari adik kandung BJ Habibie, Junus Effendi Habibie).

Namun setelah Junus meninggal dunia, BJ Habibie yang mengambil alih peran sebagai kakek bagi Rafid. Oleh karena itu, Rafid pun sangat dekat dengan BJ Habibie.

2 dari 3 halaman

Eropa

Rafid Habibie menimba ilmu di Italia setelah gagal menembus persaingan di Sporting Lisbon. (Bola.com/Dok.pribadi)

Nama Rafid mulai dikenal pecinta sepak bola Indonesia pada tahun 2017. Dia digadang-gadang akan bisa masuk timnas Indonesia. Rafid sempat ikut diseleksi pelatih timnas Indonesia U-19 Indra Sjafri. Sayangnya Rafid yang ketika itu baru berusia 17 tahun gagal lolos seleksi.

Usai gagal menembus timnas Indonesia U-19, Rafid berkelana ke Eropa. Dia sempat berlatih di Italia bersama Perugia dan kemudian dengan Sporting CP di Portugal.

Setelah menimba ilmu di Eropa pada Juni 2019, Rafid Habibie kembali ke Indonesia. Rafid hampir masuk Persib B yang dilatih oleh Liestiadi.

3 dari 3 halaman

Batal ke Persib B

Sayangnya Rafid Habibie tak menemukan kesepakatan dengan Persib B. Dia menolak ditempatkan di Persib U-20 terlebih dahulu.

“Dia usianya baru 19 tahun, secara kualitas teknik oke, tapi secara power dan taktik, dia kurang tenaga. Apalagi saya disuruh manajemen untuk menyiapkan pemain yang sudah jadi. Kemudian saya dia rekomendasikan ke Persib U-20 agar dapat jam terbang. Ternyata entah mengapa, dia memiliki pertimbangan dan menolak ke U-20,” jelas Liestiadi.

“Saya liat di CV-nya, dia sudah bermain di Portugal dan Italia. Kalau dia ke U-20 pasti diterima, tapi dia menolak. Sementara di Persib B, saya butuh pemain yang mengerti pressing, taktik, dan transisi,” ungkap Liestiadi.