Tidak Lagi Gugup, Liverpool Siap Duduki Takhta Liga Inggris

Namun, duel versus Chelsea memiliki makna lebih dalam bagi Liverpool. Di partai itulah mereka melewatkan kesempatan mengakhiri paceklik gelar liga lebih cepat.

Momen itu hadir pada 2013/2014. Seperti sekarang, Liverpool terlibat perburuan mahkota melawan Manchester City. Mereka dalam posisi kuat setelah tidak terkalahkan dalam 16 laga, 11 di antaranya merupakan kemenangan beruntun.

Sayang, The Reds terpeleset saat menjamu Chelsea di pekan ke-36, yang secara harafiah ditandai tergelincirnya kapten Steven Gerrard ketika hendak menerima umpan dari rekan. Demba Ba kemudian merebut bola dan membawa Chelsea unggul, sebelum Willian memastikan kemenangan tim tamu pada injury time babak kedua.

Insiden tersebut memperkuat reputasi Liverpool sebagai klub yang tidak punya mental juara. Pasalnya, The Reds juga pernah punya peluang mengangkat kembali trofi yang terakhir kali direbut pada 1989/1990.

Kesempatan besar lainnya hadir musim 2008/2009. Ketika itu, mereka kehilangan momentum setelah manajer Rafael Benitez meladeni perang urat syaraf melawan Sir Alex Ferguson yang menangani Manchester United.

Kini kredit patut ditujukan kepada Klopp karena bisa membawa Liverpool dalam posisi ideal. Dia sukses melindungi anak asuhnya dari tekanan dan memotivasi mereka untuk selalu mengeluarkan penampilan terbaik.

“Tantangan terbesar kami selalu datang dari luar. Kami mencoba fokus pada diri sendiri. Sekarang kami mencoba mengoleksi 97 angka di akhir musim. Jika itu cukup (untuk jadi juara), maka sempurna,” kata Klopp, dilansir Guardian.